Dia Saja Baru Datang
Entah ia tahu, mana....
Mata yang hendak meraup cinta
Mata yang sesak dengan lukisan terancang,
Jika, maka, seandainya....
Serta merta mata yang wajar berharap
Namun berlebihan dan belumlah halnya
Sebab dia adalah..
Mata, belalak... baru kemarin
Lidah, kesat... kemarin baru dikeruk
Hidung, ingus... kain panjang baru saja dijemur ibu
Telinga, pekak... hanya terdengar suara cerita dongeng sebelum tidur dan
Kulit, memar... takkan lupa membawa payung
Dia yang baru saja datang
Minggu, 07 September 2008
Sabtu, 06 September 2008
Bentak (Hati)
Telinga memekak
tutur menyamai telagah
dengan tetek bengek
dan kilah yang mengindah
untuk mengatup jendela hati
sama halnya dengan notabene
yang tertulis tinta merah
suara mulai serak
berdahak berdetak
mendikte pengelak
ah .............
akui saja ketidakbisaan
daripada mengukir janji tanpa waktu
tutur menyamai telagah
dengan tetek bengek
dan kilah yang mengindah
untuk mengatup jendela hati
sama halnya dengan notabene
yang tertulis tinta merah
suara mulai serak
berdahak berdetak
mendikte pengelak
ah .............
akui saja ketidakbisaan
daripada mengukir janji tanpa waktu
Malam-malam
Antarkan dia..
lewat malam
satu,
dua,
tiga,
tujuh,
empat belas,
empat puluh,
seratus,
seribu,
malam.
Malam...
selamatkan dia
sampai cerita ini tamat...
lewat malam
satu,
dua,
tiga,
tujuh,
empat belas,
empat puluh,
seratus,
seribu,
malam.
Malam...
selamatkan dia
sampai cerita ini tamat...
Ibuku Masih Perawan
aku masih didalam
belum beranjak
berdarah
terluka oleh cinta
dan ibu masih perawan
salah ibu atau salah ayah?
siapa ibu atau siapa ayah?
ketika aku dititipkan
ibu tetap ingin perawan
aku ingin membuka mata
menatap ayah yang masih bujang
memeluk ibu yang masih menggadis
tetapi aku tertidur
dan ditidurkan
aku ketakutan didalam
aku pelita yang dinyalakan di tengah hari
hidup atau mati tak ada beda
dan ibu tetap memilih ingin perawan
belum beranjak
berdarah
terluka oleh cinta
dan ibu masih perawan
salah ibu atau salah ayah?
siapa ibu atau siapa ayah?
ketika aku dititipkan
ibu tetap ingin perawan
aku ingin membuka mata
menatap ayah yang masih bujang
memeluk ibu yang masih menggadis
tetapi aku tertidur
dan ditidurkan
aku ketakutan didalam
aku pelita yang dinyalakan di tengah hari
hidup atau mati tak ada beda
dan ibu tetap memilih ingin perawan
Mendengar & Melihat
Mendengar lenguh bergemuruh
dari bibir seorang yang menilai tubuh
dihadap cermin lusuh
dan aku yang menjadi saksi
hanya bergumam dalam hati
Melihat kusut berkerut
pada dahi seorang pengecut
dihadap kerumun yang bersungut-sungut
dan aku yang hadir
dalam hati mencibir
Aku hanya bisa mendengar
Aku hanya bisa melihat
dan berkata dalam hati
untuk saat ini
dari bibir seorang yang menilai tubuh
dihadap cermin lusuh
dan aku yang menjadi saksi
hanya bergumam dalam hati
Melihat kusut berkerut
pada dahi seorang pengecut
dihadap kerumun yang bersungut-sungut
dan aku yang hadir
dalam hati mencibir
Aku hanya bisa mendengar
Aku hanya bisa melihat
dan berkata dalam hati
untuk saat ini
Langganan:
Postingan (Atom)