Menahan Nafas II
Tak pelak aku mengandai-andai
Takkan kau kutemui
Bahkan engkaupun entah siapa dalam legenda
Namun..
Aku menyaksikan lakonan nyata
Yang kadang makin memikat
Dan juga menyebalkan
Sebab mata tak setakat hati
Yang menghadirkan dua kutub yang berlawan
Hati menyeru..
Kaulah wanita yang membukakan mata
Pada alur yang hendak kuwujudkan
Agar tetap kau tokoh yang berperan terbaik
Kaulah wanita yang menyibak tirai jendela
Agar aku tetap menatap cahaya matahari pagi
Namun mata menyela..
Kau wanita yang menutup mataku
Pada wajah yang terpampang berpencar arah
Kau wanita yang menerangi malamku
Yang mengusik tidurku
Hingga aku bersama malam yang menggantikan siang..
Berdua,
mengubur jasad-jasad bait dan meleraikan aksara dalam liang
Akupun mencium aroma kamboja
Yang tumbuh subur diatas daging yang membusuk dan tulang-tulang kian rapuh
Aku kalah memburu nafas yang bergairah
Tersendat tenggorok menelan ucap yang kau suguhkan
Tersumbat lubang hidung oleh udara kotor yang kau semburkan serpihan-serpihan kasih
Aku mati..
Dalam diam..
Percuma menangisi..
Air mata kalah dengan rintik hujan
Percuma mengadu..
Sepi direntang ramai
Menciut lidah dan bibir kering mengelupas
Karena ludah mengental menyatu dengan kata yang mengubur diri
Detik-detik yang bisa menoreh
Terbuang bersama oceh yang melirik
Sabtu, 28 Februari 2009
Kamis, 30 Oktober 2008
Dalam Kata
Tidak ada tetek bengek
tidak embel-embel
tidak ada penambahan kata
sebuah kombinasi dari kata-kata yang sangat berpengaruh
dalam pituah
dalam salam
dalam literatur
adalah dia pergi
aku bisa bayangkan aku menemukan diriku berselimut suka cita
sudah alamiah jika bersedih
bukan karena kau pergi
melainkan langkah yang kita lihat secara pribadi terlalu banyak waktu
cukup sedikit waktu dan keajaiban
walaupun kau tetap harus pergi
dan dengan sangat sederhana kau tinggalkan senyum simpul
yang bukan untuk terakhir kali
karena aku masih disini membalikkan halaman berikutnya
melanjutkan tulisan tentang hari ini untuk selamanya
tidak embel-embel
tidak ada penambahan kata
sebuah kombinasi dari kata-kata yang sangat berpengaruh
dalam pituah
dalam salam
dalam literatur
adalah dia pergi
aku bisa bayangkan aku menemukan diriku berselimut suka cita
sudah alamiah jika bersedih
bukan karena kau pergi
melainkan langkah yang kita lihat secara pribadi terlalu banyak waktu
cukup sedikit waktu dan keajaiban
walaupun kau tetap harus pergi
dan dengan sangat sederhana kau tinggalkan senyum simpul
yang bukan untuk terakhir kali
karena aku masih disini membalikkan halaman berikutnya
melanjutkan tulisan tentang hari ini untuk selamanya
Matahari yang Kelima
Ini matahari yang kelima dan bulan tigabelas
menyingau dari pojok aku berdiri
tentang sesuatu yang pernah ingin dijadikan masa depan
aku menangisi kepergian di sisi yang luas aku menjauh
ada yang datang disatu sisi terang ada yang hilang
Inilah matahari yang kelima
pada sujud titik terik
hari yang indah untuk menghitung kesalahan hingga saat ini
aku tak meninggalkan sesuatu tanpa alasan
dan ini bukan tentang janji
alasan apa yang diterima
kecuali perubahan, mengingat dan berbuat sesuatu yang meyakinkan
aku berdiri setentang matahari
aku berbaring sebujur matahari
dan aku mati menjadi matahari
menyingau dari pojok aku berdiri
tentang sesuatu yang pernah ingin dijadikan masa depan
aku menangisi kepergian di sisi yang luas aku menjauh
ada yang datang disatu sisi terang ada yang hilang
Inilah matahari yang kelima
pada sujud titik terik
hari yang indah untuk menghitung kesalahan hingga saat ini
aku tak meninggalkan sesuatu tanpa alasan
dan ini bukan tentang janji
alasan apa yang diterima
kecuali perubahan, mengingat dan berbuat sesuatu yang meyakinkan
aku berdiri setentang matahari
aku berbaring sebujur matahari
dan aku mati menjadi matahari
Minggu, 07 September 2008
SoSoK
sulit tuk tesembul diantara titik-titik hujan
ketika sosok menderu mengajakku pergi
lumpur yang busuk telah melekat
pada jasad yang mulai renta
ketika sosok melerai menjauh pergi
aku larut dalam keberanian jantan
pada jaman yang mulai usang
mengobati perih yang tertoreh
aku terkesima pada sosok yang ambigu
dalam relung hati
dalam bayang yang bertengger dipelupuk mata
ketika jamaah melirik cinta
engkau sosok yang maya
dalam lensa yang tak berfokus
dalam cermin yang tak berbingkai
ketika lenggok yang gemulai dengan pose-pose
engkau sosok yang membuatku larut
ketakutan dalam lirik
dalam kematian jiwa
ketika ramai mengkabut.
ketika sosok menderu mengajakku pergi
lumpur yang busuk telah melekat
pada jasad yang mulai renta
ketika sosok melerai menjauh pergi
aku larut dalam keberanian jantan
pada jaman yang mulai usang
mengobati perih yang tertoreh
aku terkesima pada sosok yang ambigu
dalam relung hati
dalam bayang yang bertengger dipelupuk mata
ketika jamaah melirik cinta
engkau sosok yang maya
dalam lensa yang tak berfokus
dalam cermin yang tak berbingkai
ketika lenggok yang gemulai dengan pose-pose
engkau sosok yang membuatku larut
ketakutan dalam lirik
dalam kematian jiwa
ketika ramai mengkabut.
Ungkap
Engkau yang disana tersenyum
Lontarkanlah abjad-abjad yang menyatu
Yang dapat mengaitkan untaian kata dalam ruh
Agar kau tahu setiap abjad adalah jiwaku
Tangan adalah bibirku yang bertutur
Ingin mengungkap tak lepas lewat goresan
Ketika Cinta harap Suara
Isyaratkan hati untuk mengacu pada logika
Lihat saja pada tingkah
Tak perlu rasanya bibir bergetar
Aku takut menabur abjad dipermukaan samudera
Ketika kebahagiaan adalah bungkusan cinta
Ketika bungkusan cinta berlabel harga
Lontarkanlah abjad-abjad yang menyatu
Yang dapat mengaitkan untaian kata dalam ruh
Agar kau tahu setiap abjad adalah jiwaku
Tangan adalah bibirku yang bertutur
Ingin mengungkap tak lepas lewat goresan
Ketika Cinta harap Suara
Isyaratkan hati untuk mengacu pada logika
Lihat saja pada tingkah
Tak perlu rasanya bibir bergetar
Aku takut menabur abjad dipermukaan samudera
Ketika kebahagiaan adalah bungkusan cinta
Ketika bungkusan cinta berlabel harga
Langganan:
Postingan (Atom)