ada yang bisa menolong?
ada yang bungkang sepetang
ada yang tumbang di belakang
ada yang bisa melolong?
ada yang merintih tertindih
ada yang pedih tertoreh
ada yang bisa memopong?
ada yang meraung hanya bingung
ada yang beruntung hanya buntung
ada yang berang
ada belulang
ada yang kurang
ada yang benderang
ada ketimbang
ada yang kepalang
ada yang hilang
ada tak ada orang
ada yang orang?
Sabtu, 28 Februari 2009
Tak Lagi Kekasihku
Aku Takkan Lagi Menyakiti Kekasihku
Karena Melihat Arloji
Aku Takkan Menyayangi Kekasihku
Karena Waktu Luang
Karena Jiwa
Karena Cinta
Matilah di Rebahku
Hiduplah di Pundakku
Senyumlah di Pipiku
Menangislah di Bahuku
Aku Takkan Lagi Mengingin-Inginkanmu
Karena Kau Menunggu
Aku Takkan Lagi Mencari-carimu
Karena Kau Tak Lagi Kekasihku
Karena Melihat Arloji
Aku Takkan Menyayangi Kekasihku
Karena Waktu Luang
Karena Jiwa
Karena Cinta
Matilah di Rebahku
Hiduplah di Pundakku
Senyumlah di Pipiku
Menangislah di Bahuku
Aku Takkan Lagi Mengingin-Inginkanmu
Karena Kau Menunggu
Aku Takkan Lagi Mencari-carimu
Karena Kau Tak Lagi Kekasihku
RANTAI NAFAS
Tarian Nafas
Dia sudah mempunyai segala jawaban
Atas setiap pertanyaan yang akan diajukan
Dan, kukatakan ” aku seharusnya.. tidak...”
Karena tidak semua perihal
Harus dicari jalan keluarnya
Aku tetap saja maju melangkah dan menjauh melangkahinya..
Berikan aku nasehat
Wahai.. penikmat lakonan dalam kurun waktu
Agar aku bisa dilirik
Dan takku berjalan jauh lagi
Karena aku lebih senang berada disini dan tentu saja akan memberikan giliran pada mereka yang masih mengiringi tarian nafas
Agar aku tak berbisik
Dengan tanduk diubunku
Agar aku tak menghardik
Cermin yang memperlihatkan bayangan yang tak terjamah
Hanya dengan mengingat kematian
Aku bisa tetap hidup
Dari tiada tentu kembali tiada
Hingga tak ada lagi padang hijau membentang dihalaman kediaman
Sebab rumput akan layu dan mati terinjak
Oleh berjuta pasang kaki dengan sepatu yang terbuat dari kulit binatang
Dan mereka yang masih mengiringi tarian nafas
Dia sudah mempunyai segala jawaban
Atas setiap pertanyaan yang akan diajukan
Dan, kukatakan ” aku seharusnya.. tidak...”
Karena tidak semua perihal
Harus dicari jalan keluarnya
Aku tetap saja maju melangkah dan menjauh melangkahinya..
Berikan aku nasehat
Wahai.. penikmat lakonan dalam kurun waktu
Agar aku bisa dilirik
Dan takku berjalan jauh lagi
Karena aku lebih senang berada disini dan tentu saja akan memberikan giliran pada mereka yang masih mengiringi tarian nafas
Agar aku tak berbisik
Dengan tanduk diubunku
Agar aku tak menghardik
Cermin yang memperlihatkan bayangan yang tak terjamah
Hanya dengan mengingat kematian
Aku bisa tetap hidup
Dari tiada tentu kembali tiada
Hingga tak ada lagi padang hijau membentang dihalaman kediaman
Sebab rumput akan layu dan mati terinjak
Oleh berjuta pasang kaki dengan sepatu yang terbuat dari kulit binatang
Dan mereka yang masih mengiringi tarian nafas
RANTAI NAFAS
Menarik Nafas
Ucapanmu itu
Cukup untuk membayar semuanya
Cukup sebuah pernyataan yang benar-benar memaksa aku untuk diam dengan dalih yang dapat membukakan mata pada hamparan bumi yang takkan pernah datar
Karena aku hanya bisa mendengar tentunya
dari pada berkata-kata
sebab asam dan garam lebih dulu kau cicipi
sebab sayangku yang membuat aku membiarkan kamu larut dalam kekosongan
dan aku tetap ingin mendengar
suara yang bermula dengan tarik nafas yang dalam
Sebab perkara kan terungkap dalam nafas yang panjang
Ucapanmu itu
Cukup untuk membayar semuanya
Cukup sebuah pernyataan yang benar-benar memaksa aku untuk diam dengan dalih yang dapat membukakan mata pada hamparan bumi yang takkan pernah datar
Karena aku hanya bisa mendengar tentunya
dari pada berkata-kata
sebab asam dan garam lebih dulu kau cicipi
sebab sayangku yang membuat aku membiarkan kamu larut dalam kekosongan
dan aku tetap ingin mendengar
suara yang bermula dengan tarik nafas yang dalam
Sebab perkara kan terungkap dalam nafas yang panjang
RANTAI NAFAS
Menahan Nafas III
Pernah mereka berkesimpulan
Dunia tetap hidup karena cemburu
Apalah bedanya..
Hanya sebatas gerak lima jari
Hanya irama yang bermelodi tinggi
Yang membuat merasa kalah
Aku paham, kau cemburu
Namun kau tak tahu betapa cemburunya aku....
Sungguh....
Angan-angan itu tak tahu diri
Aku tak pernah percaya bahwa jodoh takkan lari kemana
Jika kau dan aku saling berusaha menjauh
Jika kau dan aku hanya saling menunggu
Jika kau dan aku mati
Aku juga menghadirkan bencana
Kalau sempat bibir berbicara dan berusaha menembus batas harap dan cemburu yang memadu tanpa sekat
Sama saja dengan aku yang diam tanpa memburu bayang-bayang
Dan satu hiruppun tak tertarik
terpaksa menahan nafas menjelang sesak
Pernah mereka berkesimpulan
Dunia tetap hidup karena cemburu
Apalah bedanya..
Hanya sebatas gerak lima jari
Hanya irama yang bermelodi tinggi
Yang membuat merasa kalah
Aku paham, kau cemburu
Namun kau tak tahu betapa cemburunya aku....
Sungguh....
Angan-angan itu tak tahu diri
Aku tak pernah percaya bahwa jodoh takkan lari kemana
Jika kau dan aku saling berusaha menjauh
Jika kau dan aku hanya saling menunggu
Jika kau dan aku mati
Aku juga menghadirkan bencana
Kalau sempat bibir berbicara dan berusaha menembus batas harap dan cemburu yang memadu tanpa sekat
Sama saja dengan aku yang diam tanpa memburu bayang-bayang
Dan satu hiruppun tak tertarik
terpaksa menahan nafas menjelang sesak
Langganan:
Postingan (Atom)