Minggu, 01 Maret 2009

Pantat Berbulu (Dalam Hati)

Beranjak kata
terelak bara yang tak kunjung arang
pada bibir-bibir kering yang mudah terbakar
gelak berkhianat
cibir mengumpat
salam berderuk
hati mengutuk
pantat berbulu ...

Berkedip mata
terbias cahaya yang tak kunjung padam
hidup di antara kertas
dengang tak ketus
keluai mencuri ayam
beranak .......

Bertekuk lutut
tertatih langkah yang tak putus jalan
pada setapak yang bersimpang-simpang
nafas terengah
peluh bersimbah
menginyam malu
darah ke ujung rambut
hantu belau...

Pada waktu yang separuh
jelas kerut di kening lebam
menyingau masa yang tak mungkin kembali pulang
menyorot waktu yang tersisa
beraksa tumbang di tengah terik
tak tahan menatap pada geliat
langit tak mau jadi sahabat
air mata jatuh ke dalam hati
manusia mati menahan dendam

Sabtu, 28 Februari 2009

SOS

ada yang bisa menolong?
ada yang bungkang sepetang
ada yang tumbang di belakang

ada yang bisa melolong?
ada yang merintih tertindih
ada yang pedih tertoreh

ada yang bisa memopong?
ada yang meraung hanya bingung
ada yang beruntung hanya buntung

ada yang berang
ada belulang
ada yang kurang

ada yang benderang
ada ketimbang
ada yang kepalang

ada yang hilang
ada tak ada orang
ada yang orang?

Tak Lagi Kekasihku

Aku Takkan Lagi Menyakiti Kekasihku
Karena Melihat Arloji

Aku Takkan Menyayangi Kekasihku
Karena Waktu Luang

Karena Jiwa
Karena Cinta

Matilah di Rebahku
Hiduplah di Pundakku
Senyumlah di Pipiku
Menangislah di Bahuku

Aku Takkan Lagi Mengingin-Inginkanmu
Karena Kau Menunggu

Aku Takkan Lagi Mencari-carimu
Karena Kau Tak Lagi Kekasihku

RANTAI NAFAS

Tarian Nafas

Dia sudah mempunyai segala jawaban
Atas setiap pertanyaan yang akan diajukan
Dan, kukatakan ” aku seharusnya.. tidak...”
Karena tidak semua perihal
Harus dicari jalan keluarnya
Aku tetap saja maju melangkah dan menjauh melangkahinya..
Berikan aku nasehat
Wahai.. penikmat lakonan dalam kurun waktu
Agar aku bisa dilirik
Dan takku berjalan jauh lagi
Karena aku lebih senang berada disini dan tentu saja akan memberikan giliran pada mereka yang masih mengiringi tarian nafas
Agar aku tak berbisik
Dengan tanduk diubunku
Agar aku tak menghardik
Cermin yang memperlihatkan bayangan yang tak terjamah
Hanya dengan mengingat kematian
Aku bisa tetap hidup
Dari tiada tentu kembali tiada
Hingga tak ada lagi padang hijau membentang dihalaman kediaman
Sebab rumput akan layu dan mati terinjak
Oleh berjuta pasang kaki dengan sepatu yang terbuat dari kulit binatang
Dan mereka yang masih mengiringi tarian nafas

RANTAI NAFAS

Menarik Nafas

Ucapanmu itu
Cukup untuk membayar semuanya
Cukup sebuah pernyataan yang benar-benar memaksa aku untuk diam dengan dalih yang dapat membukakan mata pada hamparan bumi yang takkan pernah datar
Karena aku hanya bisa mendengar tentunya
dari pada berkata-kata
sebab asam dan garam lebih dulu kau cicipi
sebab sayangku yang membuat aku membiarkan kamu larut dalam kekosongan
dan aku tetap ingin mendengar
suara yang bermula dengan tarik nafas yang dalam
Sebab perkara kan terungkap dalam nafas yang panjang