Sabtu, 20 Februari 2010

MENYALAH SUDAH

menyalah sudah..
aku lupa tak menyadari.
menatap tanpa posisi
dipandang tanpa tanda

selang perasaan bersalah
tingkah menyalah sudah

huh,,,
siapa dirimu dalam terka
siapa aku tanpa tanda tanya.
seperti kumbang mengencingi kelopak
sari terkuras angan terlepas
kuncup adalah kegelisahan yang bertahan lama
mati..

kuracuni kau dalam rengkuh
aku tertikam manja
dan aku kembali lupa
ini bukan yang biasa.
Sudah menyalah..

dan pada sebuah permintaan
dengan timbunan rasa bersalah
akukah,
atau tidak sama sekali
tanpa berbelah hati

Sabtu, 13 Februari 2010

LETIH

Sekarang saatnya berhenti mengapung
dan mulai mendayung
aku letih mencintai jiwa yang menutupi dunianya dengan kenangan

Jumat, 01 Mei 2009

KOTA INI


kota ini sudah sempit
menjadikan semua tampak buram
langkah bergantung pada sentuhan lincah jemari
dan menepis jauh-jauh kata berbau letih
memang parah,
dari manusia jadi-jadian
samar terhadap tujuan hidup
memang payah,
dari menggolek segenggam butiran kacang hijau dengan sebatang lidi

ini pekerjaan gila
jauh dari kesanggupan
untuk badan yang rentan terusik alam

siapa tahu,
siapa yang tahu,
siapa mau tahu
kota ini adalah rimba
gila,
kegilaan,
tergila-gila
adalah rentetan pencapaian hasrat

hal yang rumit
terungkit tentang kota yang pelit
dan bicara berkenaan dengan duit
pada waktu yang sedikit

kota ini adalah pencipta kekufuran,
pada pandangan yang terbatas
pada keinginan yang mengangan

Duapuluh Tujuh

Engkau "Iman"ku yang kuperoleh dari seorang bocah yang belum bisa menyebutkan huruf "R" dan kadang terpaksa meminum susu asin kalengan juga selalu melarangmu memanggilku dengan kata "Bapak"

Minggu, 01 Maret 2009

Pantat Berbulu (Dalam Hati)

Beranjak kata
terelak bara yang tak kunjung arang
pada bibir-bibir kering yang mudah terbakar
gelak berkhianat
cibir mengumpat
salam berderuk
hati mengutuk
pantat berbulu ...

Berkedip mata
terbias cahaya yang tak kunjung padam
hidup di antara kertas
dengang tak ketus
keluai mencuri ayam
beranak .......

Bertekuk lutut
tertatih langkah yang tak putus jalan
pada setapak yang bersimpang-simpang
nafas terengah
peluh bersimbah
menginyam malu
darah ke ujung rambut
hantu belau...

Pada waktu yang separuh
jelas kerut di kening lebam
menyingau masa yang tak mungkin kembali pulang
menyorot waktu yang tersisa
beraksa tumbang di tengah terik
tak tahan menatap pada geliat
langit tak mau jadi sahabat
air mata jatuh ke dalam hati
manusia mati menahan dendam